Welcomw To Blogspot Riezal Cinta Damai

Rabu, 18 Januari 2012

Teori Jalan Kecil - Tujuan (Path-Goal Theory)






Seperti telah diketahui secara luas pengembangan teori kepemimpinan selain berdasarkan pendekatan kontijensi, dapat pula didekati dari teori path-goal yang mempergunakan kerangka teori motivasi Hal ini merupakan pengembangan yang sehat karena kepemimpinan disatu pihak sangat dekat berhubungan dengan motivasi kerja, dan pihak lain berhubungan dengan kekuasaan. Setiap teori yang berusaha mensintesakan bermacarn-macam konsep kelihatannya merupakan suatu langkah yang mempunyai arah yang benar.
Usaha pengembangan teori path-goal ini sebenarnya telah dimulai oleh Georgepoulos dan kawan-kawannya di Institut Penelitian Sosial Universitas Michigan. Dan istilah path-goal tersebut telah dipergunakan hampir 25 tahun untuk menganalisa pengaruh kepemimpinan dalam pelaksanaan kerja.
Dalam pengembangannya yang modern Martin Evans dan Robert House secara terpisah telah menulis karangan dalam subyek yang sama. Secara pokok teori path-goal berUsaha untuk menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan pekerjaan bawahannya.
Teori path goal terdiri dari beberapa tipe, yaitu :
1) Kepemimpinan Direktif.
Tipe ini sama dengan model kepemimpinan yang otokratis dari Lippitt dan White. Bawahan tahu senyatanya apa yang diharapkan darinya dan pengarahan yang khusus diberikan oleh pemimpin. Dalam model ini tidak ada partisipasi dari bawahan.
2) Kepemimpinan yang Mendukung (Supportive Leadership).
Kepemimpinan model ini mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian kemanusiaan yang murni terhadap para bawahannya.
3) Kepemimpinan Partisipatif.
Gaya kepemimpinan ini, pemimpin berusaha meminta dan mempergunakan saran¬saran dari para bawahannya. Namun pengambilan keputusan masih tetap berada padanya.
4) Kepemimpinan yang Berorientasi pada Prestasi.
Gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahannya untuk berprestasi. Demikian pula pemimpin memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka mampu melaksanakan tugas pekerjaan mencapai tujuan secara baik.
Menurut teori path-goal ini macam-macam gaya kepemimpinan tersebut dapat terjadi dan dipergunakan senyatanya oleh pemimpin yang sama dalam situasi yang berbeda.
Perilaku pernimpinan akan bisa menjadi faktor motivasi (misalnya menaikkan usaha-usaha para bawahan) terhadap para bawahan, jika:
a. Perilaku tersebut dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan bawahan sehingga memungkinkan tercapainya efektivitas dalam pelaksanaan kerja.
b. Perilaku tersebut merupakan komplimen dari lingkungan para bawahan yang berupa memberikan latihan, dukungan, dan penghargaan yang diperlukan untuk mengefektifkan pelaksanaan kerja. Dan jika tidak dengan cara demikian maka para bawahan dan lingkungannya akan rnerasa kekurangan.
Teori – teori kepemimipinan/Manajer yang menjadi landasan untuk berpijak yaitu seorang harus berbuat, pada dasarnya adalah berpangkal kepada berdasarkan latar belakang kebudayan dari orang itulah yang menentukannya LANE (1980 : 62).
Pertanyaan apakah tidak akan lebih baik daripada mengambil alih secara keseluruhan dari pola perilaku pimpinan (pemimpin) dari negara lain dengan falsafahnya, yang belum tentu sesuai (cocok). nilai-nilai budaya kita sendiri yang serasi dengan orang Indonesia dan dengan lingkungannya.?
Pernah juga dicoba oleh beberapa peneliti mengemukakan konsep atau gaya kepemimpinan yang kira-kira sesuai untuk Indonesia, antara lain:
1. Djunaidi Hadi Soemarsono (1978;7)
Mengatakan bahwa gaya manajemen yang berlaku di Indonesia dewasa ini lebih cenderung kepada gaya “OTOKRETIK” dan katanya mungkin gaya seperti ini untuk masa ini sangat cocok di Indonesia.
2. Koentjaraningrat (1982;Bab I-VI)
Dalam salah satu bukunya masalah pembangunan dan mengenai ikhtisar sejarah pendidikan di Indonesia dan perubahan orientas nilai budaya Indonesia menyatakan bahwa nilai budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia atara lain adalah nilai budaya “GOTONG ROYONG” dan aspek yang lebih rinci seperti tenggang rasa, kepekaan terhadap orang lain, ketergantungan kepada lingkungan social dan pemerataan dalam prestasi, keselarasan dengan alam, adanya kecendrungan orientasi pada masa lampau, dan adanya orientasi vertikal.
3. A.S Munandar (1981;4)
menggunakan beberapa peneliti, masing-masing dilakukan oleh Arianti Panchadewa terhadap para penyelia (supervisor) dan menejer sebuah perusahaan swasta nasional, oleh Inanda Murni terhadap para manajer media sebuah perusahaan asing, dan oleh A.S Munandar sendiri terhadap hampir seluruh karyawan sebuah perusahaan (BUMN) Pemerintah dengan menggunakan kuesioner dari Likert dan ditemui bahwa sistem manajemen yang dirasakan berlaku pada perusahaan-perusahaan tersebut ialah berada diantara sistem manajemen Benevolent, Autoritative dan Consultative, sedang manajemen yang diharapkan oleh para responden ialah sistem manajemen Consultative ( bukan Partisipatif ). Sedangkan A.S Munandar, menyatakan bahwa lingkungan yang bercorak Benevolent, Autoritative dan Consultative perlu dikembangkan menjadi lingkungan yang bercorak Partisipatif..
Istilah manajer mempunyai arti sebagai seseorang yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin dan mengendalikan pelaksanaan untuk mencapai sasaran organisasi.
Dalam menyikapi Gaya Kepemimpinan perlu rasanya dikembangkan pembahasan Koentjaraningrat (1974;44-47) mengenai mentalitas sebelum revolusi 1945 manusia Indonesia dengan menggunakan kerangka Kluckhohn adalah sebagai berikut :
1. Nilai budaya mengenai hakekat dari hidup dan karya manusia :
Mentalitas Petani : Tidak bisa berspekulasi mengenai hal-hal yang tidak terlintas baginya.
Mentalitas Priyayi (Jawa) : Lebih menghargai amal dari pada karya dan kurang berorientasi pada keberhasilan karya itu sendiri atau secara lebih jelas diibaratkan seorang yang sekolah bukan untuk keterampilan tapi untuk mendapatkan ijazah.
2. Nilai budaya persepsi waktu
Mentalitas Petani : Persepsi waktu yang terbatas dan lebih ditentukan oleh lingkungan siklus kegiatan pertanian lebih masa kini.
Mentalitas Priyayi (Jawa) : orientasi pada masa lampau sehingga mempunyai sentimen agak berlebihan terhadap segala sesuatu dari zaman dahulu dan upacara-upacara yang tetap dapat dihidupkan sentimen-sentimen tersebut.
3. Hubungan Manusia dengan alam :
Mentalitas Petani : orang harus hidup selaras dengan alam, tidak dapat menguasai alam tapi tidak tunduk pada alam “ini mengenai nasib yang mempengaruhinya”.
Mentalitas Priyayi (Jawa) : terlau banyak menggantungkan diri kepada nasib, karena menganggap dirinya sebagai bagian kecil saja dari alam semesta serta sepenuhnya terbawa oleh pengaruhnya.
4. Nilai budaya mengenai hubungan manusia dengan sesamanya :
Mentalitas Petani : sama rata sama rasa hal ini member rasa aman yang besar tapi sekaligus membawa kewajiban untuk selalu memperhatikan kepentingan sesame dan menimbulkan kompromi yang besar.
Mentalitas Priyayi (Jawa) : adat sopan santun yang berorientasi kepada atasan, hal ini menyebabkan hasrat untuk berdiri sendiri serta disiplin pribadi yang murni (tanpa pengawasan) menjadi lemah.
Koentjaraningrat mengemukakan lima macam yang penting :
1. Mentalitas yang meremehkan mutu sebagai dari akibat dari keadaan yang sangat kurang setelah revolusi karena yang ada saja sudah kurang.
2. Mentalitas yang suka menerobos :
ada hubungannya dengan kurang mementingkan mutu, karena ada kemungkinan menanjak secara vertikal dengan cepat dalam jenjang sosial setelah revolusi, maka orang tidak lagi sabar mengikuti garis panjang kemajuan hidup seperti yang dijunjung tinggi oleh nenek moyang kita.
3. Kecendrungan terlalu banyak berorientasi pada vertikal
seperti kepada atasan, orang yang berpangkat tinggi, orang tua, senior, menurut Koentjaraningrat (1974;54-58) memburuk setelah revolusi. sifat tidak percaya kepada diri sendiri, mental ini sebabnya banyak dijumpai kegagalan-kegagalan pada post revolusi yaitu sejak tercapainya kemerdekaan.
4. Sifat tidak berdisiplin murni
Mental ini sudah terbawa sejak sebelum revolusi, dimana orang bersikap disiplin karena takut kepada penjajah Belanda, tampak memburuk karena pengawas pada zaman revolusi berkurang bahkan boleh dikatakan menghilang.
5. Sifat tidak bertanggung jawab
Sifat bertanggung jawab zaman kolonial Belanda ditanamkan dengan pengawasan yang sangat ketat dan diikuti dengan sangsi yang berat. hingga setelah revolusi dimana pengawasan berkurang, maka orang cenderung menjadi kurang bertanggung jawab. Koentjaraningrat juga melihatnya sebagai ada hubungan dengan pola perasaan yang berdasarkan hilang muka dan unsure merasa tidak menyesal kalau bersalah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar