Welcomw To Blogspot Riezal Cinta Damai

Minggu, 18 September 2011

Gemuk Bukan Berarti Tak Sehat


Selama bertahun-tahun, kita telah mendengar tentang bahaya obesitas. Para ahli mengatakan orang gemuk lebih mungkin terkena serangan jantung, stroke, dan diabetes. Tapi, studi baru sekarang mendapati bahwa orang gemuk mungkin sehat.

Lingkar pinggang seseorang biasanya dikaitkan dengan resiko yang bersangkutan menderita penyakit jantung dan diabetes. Tapi, sebuah penelitian baru berkata lain.
Dokter menggunakan pengukuran yang disebut Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengetahui apakah seseorang tersebut kurus, normal atau gemuk. Perhitungan yang mudah ini berdasarkan tinggi dan berat badan. Jika IMT Anda lebih dari 30, berarti anda mengalami obesitas.
Beberapa tahun lalu, para peneliti Kanada mengembangkan ukuran yang lebih canggih, yang disebut Edmonton Obesity Staging System (EOSS). Sistem ini mengklasifikasikan orang gemuk dalam lima kategori, atau tahapan, berdasarkan faktor-faktor resiko seperti tekanan darah, nyeri dada, dan kelelahan.
Untuk mengevaluasi EOSS, Jennifer Kuk dari York University, Toronto dan koleganya meneliti catatan kesehatan ribuan pasien dari sebuah klinik di Texas. Setiap pasien dimasukkan ke dalam kelompok risiko  sistem Edmonton berdasarkan sejarah medis rata-rata 16 tahun.
"Ketika kami melakukannya, kami melihat bahwa penderita obesitas yang dikategorikan dalam kelompok risiko rendah menurut Sistem Tahap Edmonton, memiliki risiko kematian yang sama dibandingkan orang-orang dengan berat badan normal dalam sampel itu. Dan, mereka bahkan beresiko lebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung," jelas Kuk.

VOA
Menurut penelitian York University, yang menentukan sehat tidaknya seseorang bukanlah berat badan, melainkan gaya hidup. Gaya hidup yang aktif dengan berolahraga menurunkan berbagai resiko penyakit.
Banyak orang gemuk, tapi sehat yang kewalahan untuk menurunkan berat badan. Kuk mengatakan mungkin itu bukan pendekatan yang terbaik untuk orang yang makan dengan baik dan aktif secara fisik, walaupun kelebihan berat badan beberapa kilo.
"Ada individu gemuk yang sehat, dan individu itu mungkin sebenarnya tidak mendapat manfaat dari penurunan berat badan," tambah Kuk. "Sebaliknya, kita harus berfokus pada gaya hidup sehat yang meliputi olahraga dan diet yang baik, dan mungkin orang-orang yang sehat itu tidak perlu terlalu berfokus pada penurunan berat dan hanya berfokus pada upaya agar tidak bertambah gemuk."
Sistem Edmonton ini dikembangkan oleh para periset di University of Alberta, dan digunakan bersamaan dengan skala tradisional IMT. Tapi karena lebih rumit dari sekedar menggunakan Indeks Massa Tubuh, EOSS kurang mendapat sambutan.
Penelitian Jennifer Kuk ini dimuat dalam jurnal Applied Physiology, Nutrition, and Metabolism.






Konsumsi Jenis Makanan Tentukan Jenis Bakteri yang Bantu Pencernaan di Usus
Para pakar di Universitas Pennsylvania, Amerika, meneliti kaitan antara bakteri yang ada dalam usus dengan jenis makanan yang kita makan.

Jenis bakteri yang membantu pencernaan makanan dalam usus seseorang dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi setiap harinya (foto: ilustrasi).
Sistem pencernaan manusia penuh bakteri, kebanyakan bakteri yang baik. Organisme ini membantu memroses makanan sehingga tubuh bisa menyerap sari makanan.
Gary Wu dari Universitas Pennsylvania dan para ilmuwan lain melakukan dua penelitian untuk mengetahui hubungan antara makanan  dengan jenis mikroba yang ada dalam usus kita.
Ia memaparkan, “Kami mengumpulkan sampel kotoran manusia untuk meneliti jenis bakteri yang ada dalam usus orang-orang yang memberitahu pada kami apa yang mereka makan.”
Wu mengatakan bakteri pada usus orang yang makan satu jenis makanan berbeda dari orang yang makan makanan jenis lain.
“Pada dasarnya kami menemukan dua kelompok manusia berdasarkan bakteri yang ada dalam ususnya, yaitu orang yang makan makanan barat dan orang yang makan sayur dan buah-buahan,” ujarnya.
Dalam penelitian kedua, 10 sukarelawan ikut dalam eksperimen makan yang dikontrol. Mereka harus mengubah makanan yang biasa mereka makan. Namun, ternyata bakteri pencerna mereka tetap sama. Ini menunjukkan bahwa jenis-jenis bakteri didasarkan pada pola makan jangka panjang, bukan apa yang dimakan dalam hari-hari terakhir.
Penelitian lain yang terkait dengan pola makan memperingatkan bahwa obesitas meningkat di dunia, khususnya di Amerika dan Inggeris.
Para pakar mengatakan, di seluruh dunia 1,5 milyar orang dewasa kegemukan, dan setengah milyar lainnya mengalami obesitas.
Mereka mengatakan meningkatnya obesitas bisa meningkatkan penyakit gula, jantung, kanker, dan penyakit-penyakit lain. Obesitas di kalangan anak-anak juga meningkat. 
Kasus Obesitas Melonjak Tajam di Seluruh Dunia
Penelitian baru menyebutkan 1,5 miliar orang dewasa di dunia kelebihan berat badan dan setengah miliar orang lainnya kegemukan.

Sekitar 1,5 miliar orang dewasa atau 22 persen penduduk dunia mempunyai kelebihan berat badan.
Para pakar kesehatan memperingatkan bahwa obesitas meningkat di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat dan Inggris.
Sebuah penelitian baru yang diterbitkan hari Jumat di jurnal kesehatan The Lancet menyebutkan 1,5 miliar orang dewasa kelebihan berat badan dan setengah miliar orang lainnya kegemukan.
Obesitas juga meningkat di kalangan anak-anak di seluruh dunia, di mana 170 juta anak dikategorikan kelebihan berat badan atau kegemukan.
Para peneliti menyatakan jika kecenderungan ini berlanjut, sekitar setengah dari kaum lelaki dan perempuan Amerika akan kegemukan pada tahun 2030.
Para pakar juga memprediksi bahwa di Inggris, tingkat obesitas akan meningkat pada periode yang sama dari 26 persen saat ini pada kaum lelaki dan perempuan, menjadi 48 persen pada lelaki dan 43 persen pada perempuan.
Mereka mengatakan, kenaikan ini kemungkinan akan menyebabkan peningkatan jumlah penderita diabetes, penyakit jantung, kanker dan berbagai penyakit lainnya, sehingga menambah biaya layanan kesehatan.
Menurut penelitian itu, di negara-negara berpenghasilan rendah, obesitas cenderung mempengaruhi orang dewasa berusia separuh baya, khususnya kaum perempuan di perkotaan dan kawasan makmur.
Di negara-negara berpenghasilan tinggi, obesitas mempengaruhi lelaki dan perempuan dari seluruh kelompok usia, tetapi proporsinya tidak seimbang pada kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
Para ilmuwan mengatakan masalah obesitas dipicu oleh perubahan dalam sistem pangan global yang memproduksi lebih banyak bahan makanan olahan dan lebih terjangkau harganya daripada sebelumnya, dan oleh ekonomi pasar, yang memicu konsumsi berlebihan. Kenaikan konsumsi makanan juga seringkali disertai dengan meningkatnya gaya hidup lebih banyak duduk dan kurang berolahraga.
Para pakar kesehatan mendesak pemerintah negara-negara agar memimpin upaya mengatasi epidemi obesitas dengan intervensi kebijakan pada kelompok-kelompok masyarakat yang terimbas, seperti menetapkan pajak bagi makanan dan minuman tak sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar