Welcomw To Blogspot Riezal Cinta Damai

Kamis, 29 September 2011

METODE SURVEI




            Metode survey merupakan bagian dari paradigm positivisme atau postpositivisme. Positivisme mengasumsikan realitas yang diteliti sebagai hal yang nyata yang dinampakkan oleh ciri-ciri objektif berupa keteraturan, keterukuran dan kepastian, hukum sebab akibat, dan sebagainya (Guba dan Lincoln, 2000-195). Pengetahuan  berdasarkan paradigm ini disusun berdasarkan logika deduktif dengan merangkai atau menempatkan teori-teori atau pengetahuan sebelumnya sebagai landasan penyusunan hipotesis dan melakukan pengujian terhadapnya berdasarkan prinsip dan teknik kuantitatif. Hasil temuan dinilai sebagai fakta dan dapat digeneralisasi. Posisi peneliti dalam konteks ini adalah sebagai ‘disinterested scientist’ yang tidak boleh memiliki keterlibatan dengan obyek kajian karena dianggap berpotensi mengakibatkan bias.
            Peneliti harus mematuhi sejumlah kaidah. Pertama, peneliti harus membangun jarak dengan penelitiannya untuk menghindari bias. Kedua, kaidah yang menyangkut hasil penelitian. Hail survey umumnya digunakan untuk melakukan konfirmasi teoritik. Karena itu, salah satu tahapan riset diawali dengan menyusun kerangka teori dan kemudian diturunkan ke dalam variable-variabeld dan kerangkan operasional untuk diuji. Ketiga, survey juga dicirikan oleh tahapan riset yang terstruktur. Logika penelitian survey yang bersifat hipothetico deductive memberikan gambaran yang jelas tentang rancangannya. Dalam metode survey, sampel sudah ditentukan dari awal, sebelum peneliti melakukan penelitian di suatu daerah. Ke empat, kaidah yang terkait dengan pemaknaan terhadap kebenaran. Dalam metode survey kebenaran dinilai relative mutlak.
Lingkup Penelitian Sirvei
            Definisi Metode Survei menurut Wiseman dan Aron, “sebuah metode yang mengumpulkan dan menganalisis data social dengan menggunakan jalan terstruktur dan menggunakan interview dan kuesioner yang sangat mendetail untuk mendapatkan informasi dari responden yang berjumlah sangat banyak dengan menggunakan sampling atas populasi”.
            Berdasar definisi di atas survei memiliki beberapa unsure. Pertama, survey dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data social. Kedua, survey menerapkan teknik pengumpulan data yang terstruktur dan mendetil. Ketiga, melibatkan sampel yang luas dan representatif. Keempat, diorientasikan untuk menarik generalisasi dari sampel. Dari unsur-unsur tersebut, terlihat bahwa servei tidak identik dengan kuesioner, meski tidak dipungkiri pengambilan data dengan teknik ini paling sering digunakan.
            Dibanding dengan metode lain, survey memiliki sejumlah keunggulan (Wimmer dan Dominick, 1997:167-168), misalnya dapat digunakan untuk menginvestigasi permasalahan dalam setting yang natural, tanpa harus didesain di laboratorium. Survei bila melibatkan data yang lebih besar, dapat meramalkan trend dan menyediakan data terukur dengan indicator yang cukup jelas sehingga dapat dijadikan pijakan bagi pengambilan kebijaksanaan. Survei juga tidak terlalu dibatasi oleh kendala geografis karena dapat dilakukan dengan mengirim kuesioner atau bertanya melalui telephone.

Tiga fungsi metode Survei menurut de Vauess (1991:5-6):
Menggambarkan karakteristik data. Survei dapat digunakan untuk memberikan gambaran tentang data dan kecenderungan yang ada. Dalam hal ini, survei dapat menjelaskan berapa jumlah responden yang terlibat dalam penelitian, bagaimana karakteristik mereka, berapa porsen yang berpendidikan sarjana, dan sebagainya. Dalam jajak pendapat, survey dapat menggambarkan kecenderungan sikap public terhadap suatu isu tertentu.
Menjelaskan adanya penyebab sebuah gejala atau kecenderungan tertentu dari suatu fenomena. Survei dapat dimanfaatkan untuk memahami penyebab sebuah gejala melalui perbandingan kasus-kasus. Contoh: Peneliti dapat melihat bagaimana kecenderungan pendidikan responden dengan kemampuan mengakses internet, mengindentifikasi kecenderungan sikap dengan latar belakang identitas responden.
Mengesplorasi relasi antarvariabel. Survey dapat digunakan untuk menganalisis relasi sebab akibat. Sebagai contoh: survey dapat digunakan untuk membuat prediksi mengenai pengaruh tingkat pendidikan pada kemampuan mengakses internet. Namun, meski dapat mengeksplorasi relasi tersebut, survey memiliki sejumlah keterbatasan, di antaranya tidak cukup mampu menjelaskan kompleksitas fenomena relasi sebab akibat secara komprehensif atau membahas secara kontekstual munculnya problem tertentu.
            De  Vaus mengelompokkan survey menjadi dua macam yaitu:
Deskriptif suvey: berfungsi untuk memperoleh gambaran atau kecenderungan umum mengenai data atau sikap responden mengenai suatu isu.  Berger mengungkapkan bahwa survey jenis ini mendesripsikan populasi dengan menyajikan informasi mengenai aspek demografi-umur, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan, etnik, pendapatan, agama dan menghubungkan informasi mengenai opini, kepercayaan, nilai, perilaku dsb.  Contoh riset yang menerapkan metode adalah polling dalam pemilu untuk mengetahui partai politik, survey audiens untuk mengetahui program yang diminati dan sebagainya.
Analiticallexplanatory survey berfungsi untuk menjelaskan hubungan kausal untuk menjelaskan mengapa keadaan tertentu terjadi. Survei jenis ini umumnya dengan descriptive survey. Apabila peneliti mengharapkan penjelasan yang lebih mendalam atau menemukan alasan atau latar belakang sebuah keadaan, barulah explanatory survey digunakan.
Logika Hipotetico Deductive
            Logika hypothetico deductive merupakan cirri khas dari metode yang lahir dari paradigma positivism dan pospositivisme. Menurut Hidayat (2002), hypothetico-deductive merupakan rangkaian langkah-langkah penelitian yang mengacu pada system logika deduktif di mana peneliti empiric diawali oleh suatu proses deduktif, yang berawal dari pembentukan kerangka teori, untuk melahirkan hipotesis-hipotesis sebagai jawaban tentatif bagi masalah penelitian yang akan diuji melalui pencarian dukungan bukti-bukti empiris berdasarkan suatu perangkat metodologi tertentu. Proses selanjutnya merupakan proses induktif yang melibatkan penggunaan metode tertentu untuk menarik inferensi dari sampel ke populasi (descriptive generalization) atau menarik generelasi dari indicator-indikator yang dipergunakan untuk mengukur variable ke konsep yang lebih umum, termasuk menarik generalisasi dari hipotesis yang diuji ke teori dari mana hipotesis semula diturunkan atau menarik generalisasi dari temuan penelitian dalam setting atau konteks tertentu ke konteks yang lebih umum.
Kerangka Teori
            Teori berfungsi memberikan pijakan bagi peneliti untuk mengkaji sebuah fenomena. Teori memberikan petunjuk bagaimana fenomena tersebut seharusnya didekati, diukur  dan dianalisis (Millerm, 2002). Kerangka teori berperan sebagai bagian dari refleksi terhadap hasil pengkajian fenomena serupa yang telah dilakukan sebelumnya. Dari proses tersebut peneliti dapat memperoleh verifikasi teori, sejauh mana teori tersebut mendapatkan dukungan data atau masih relevan memberikan gambaran/prediksi dengan kondisi sekarang.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar