Welcomw To Blogspot Riezal Cinta Damai

Kamis, 29 September 2011

PERILAKU KELOMPOK



Dalam penulisan ini penulis ingin menguraikan mengenai perilaku kelompak, dengan perilaku maka setiap individu di dalam kehidupan memiliki kepentingan dan tujuan tertentu yang berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain, dan juga perbedaan status hanya merupakan salah satu dari tindakan yang alamiah didalam perilaku kelompok.
Perilaku sesorang di setiap daerah atau suku berbeda budaya dan kebiasan setiap suku bangsa, dan perilaku orang yang berpendidikan dan orang yang tidak berpendidikan, serta perilaku orang yang tinggaldi kota berbeda dengan orang yang tinggal didesa.
Misalnya perilaku orang Baucau dilihat dari cara perilaku berbicara orang Baucau tidak secara keseluruhan kasar, tapi hanya sebagian yang bisa dapat diperhitungkan, yaitu orang Wailili beda perilaku berbicaranya dengan orang Gariwai. Begitunpun kebiasaan yang dianut oleh masing-masing setiap suku, disini kita akan  memperlihatkan adat istiadat atau kebiasan yang sering kita sebut kultura dari Ermera sistema koremetan yaitu manefoun yang poton kerbau/disembeli kadan bisa sampai 4-8 kerbau/sapi, beda dengan kultura yang ada di sekitar Dili yaitu seperti Likisa yaitu sistemnya hampir sama tapi kurang dari itu satu orang manefoun bisa dapat disemblih 1-2 kerbau/sapi tapi tergantung pada kemampuan setiap orang. Dari system ini merupakan sebuah kepercayaan yang tidak akan pernah lepas dari setiap suku, dimana hal tersebut sudah terjadi sebelumnya dan sampai nantipun system tersebut masih akan dilanjutkan seperti yang kita saksikan dimana saja kita tinggal/tempati. Dan juga perilaku orang yang berpendidikan dengan orang yang tidak berpendidikan, kita akan bedakan sorang pimpinan kepala suku yang yang tidak berpendidikan apakah kemajuan dalam pelaksanaannya namun bila dibandinkan dengan zaman dulu karena adanya otoritas/kekuasaan yang diturunkan walaupun si pemimpin tidak berpendidikan ia Cuma bicara proses korespondesi di laksanakan adalah juru tulisnya, jika dibandingkan zaman sekaran Cuma orang yang berpendidikan saja walaupun jabatannya hanya sebatas kepala suku.
 Dengan sifat dan karakteristik setiap individu yang berbeda itu , tentunya akan memiliki pontensi yang besar pula, jika diwujudkan ke dalam suatu kepentingan dan tujuan bersama atau kelompok. Perilaku merupakan sejumlah karakter manusia yang terdiri dari kamampuan, kebutuhan, pikiran, perasaan(perilaku organisasi,mitha thoha,fisipol universutas gajah mada)
Perilaku sesorang tidak sama karena adanya keamapuan yang terbatas, misalkan seorang sopir kemampuannya hanya menyetir mobil saat dalam perjalan rusak ia tidak bisa perbaiki, jika di bandinkan dengan sopir lain. Perbedaan kemampuan ini ada yang mengatakan bawaan sejak lahir, banyak bergaul, ada pula karena kecerdasan dan ketrampilan yang didapatkan dari pendidikan formal dan informal. Dan juga banyak orang yang mengatakan bahwa penglaman adalah tergantun pada seseorang melalui banyak baca buku. Apapun alasannya, yang jelas perbedaan kemampuan pada seseorang dapat dibedakan  perilakunya.(perilaku organisasi, mitha thoha,fisipol universutas gajah mada)
Keperluan dan keinginan seseorang berbeda karena perilaku setiap orang berbeda di mana seseorang akan tertarik pada suatu pekerjaan dimana tawaran cocok dengan kebutuhannya namun sifat pekerjaan itu tidak permanen, jika sebaliknya tawaran gaji yang kecil namun pekerjaan tesebut sifatnya tetap. Perilaku seseorang akan tergantung pada pemikiran untuk  mengambil suatu keputusan.
Kelompok adalah terdiri dari satu atau dua orang/individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung dan bergabung untuk mencapai tujuan tertentu. Kelompok merupakan suatu pembentukan untuk menjawab/merespon sesuatu yang diperlukan diantara sesama untuk saling membantu dan menolong dalam rangka menyelesaikan pekerjaan yang dianggap rumit, seperti membangun sebuah rumah orang yang ada disekitar sucu diundang karena kebiasan orang pedesaan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan muda terlaksana. Hampir sama dengan gotong royong tapi goton royong hanya disaat-saat tertentu kerja bakti dikelurhan dan sucu saja dan menyankut kepentingan bersama yang dipimping oleh kepala sucu. Namun kelompok yang dimaksud adalah kelompok yang saling menguntungkan. Dalam teori-teori pembentukan kelompok menurut George Homans yaitu teori interaksi berdasarkan pada aktivitas, interaksi dan sentiment ( perasaan atau emosi ) yang berhubungan secara langsunng ketiganya dapat di jelaskan sebagai berikut:
a.       Semakin banyak aktivitas seseorang dengan orang lain, semakin beraneka interaksinya dan semakin kuat tumbuhnya sentiment mereka.
b.      Semakin banyak interaksi diantara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas dan sentiment yang ditularkan pada orang lain.
c.               Semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain, dan semakin banyak sentiment orang dipahami oleh orang lain, maka semakin banyak kemungkinan.
Dari teorinya G. H diatas kita dinsingun mengenai pembentukan kelompok disebabkan karena adanya aktivitas atau kegiatan manusia sehingga terjadinya interaksi antara individu yang satu dengan yang lain(perilaku organisasi, mitha thoha,fisipol universutas gajah mada.
Alasan-alasan mengapa setiap individu/orang bergabung dalam kelompok karena:
1.      Faktor keamanan.
Orang yang berada di dalam kelompok bisa mengurangi rasa tidak aman karena sendirian. Merasa lebih kuat, lebih percaya diri, dan lebih tahan terhadap ancaman.
2.      Faktor status
Bergabung ke dalam kelompok yang dipandang paling penting, memberikan pengakuan dan  status bagi para anggotanya, anggota kelompok yang deterima hanya berstatus single dan kuat akan syaratnya akan terpenuhi.
3.      Faktor afiliasi
Kelompok bisa memenuhi kebutuhan social anggotanya diantara anggota kelompok terkena musibah, gempah, banjir, dan kehilangan harta.
4.      Faktor kekuasaan
Mendapadakan kekuasaan dan kekuatan pada waktu berada dalam kelompok yang sulit didapatkan kekuasaan dan kekuatan jika sendirian.
5.      Faktor harga diri
Seseorang memiliki harga diri karena menjadi bagian kelompok dan kejelasan status mereka bagi kelompok lain. Seorang pegawai memiliki kewibawaan memerlukan kehormatan orang lain, dan rasa kasih saying antara sesama.
6.      Faktor pencapaian sasaran
Mencapai sasaran dan menyelesaikan tugas dibutuhkan lebih dari satu atau dua orang. Ada kebutuhan mengumpulkan bakat, pengetahuan, atau kekuasaan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dengan adanya faktor yang menyebabkan sehingga terjadinya pembentukan kelompok, maka setiap individu memiliki keingginan dan rasa percaya diri diantara mereka sehingga disuatu saat mencapai sasaran dan tujuan yang diharapkan oleh setiap kelompok.
Dengan berbagai macam alasn mengenai pembentukan kelompok yang ada pada saat ini dengan kepentingan dan tujuan yang bermacam-macam. Keadaan suatu kelompok sebenarnya bersifat informal sedankan organisasi bersifat formal. Kelompok sebenarnya alamiah dalam aktivitas kerja yang muncul sebagai tangapan terhadap kebutuhan akan sesustu kontak social sedangkan kelompok formal dibentuk sesuai rencana dan memiliki tujuan yang jelas.
Dalam kehidupan suatu kelompok sudah tentu tidak terlepas dari adanya perilaku setiap individu dalam kelompok , jika manusia masuk didalam kepentingan kelompok maka perilaku mereka akan menjadi perilaku kelompok untuk kebersamaan.
Untuk itu mari kita memahami baik-baik mengenai perilaku masyarakat timor leste dalam era globalisasi sekaran terhadap kondisi yang serba ada-ada saja dalam masyarakat timor leste memiliki makna fungsional dan makna filosofis yang cukup dalam, baik dalam bentuk perilaku, penampilan, maupun dalam bentuk pandangan. Masyarakat timor leste bahkan menaggap perubahan bukan Sesutu kekalahan individu oleh kelompok, melainkan ekspresi aktualisasi diri yang justru membuat individu menjadi lebih berharga karena telah berarti bagi banyak orang.
  Masyarakat timor leste sejak kemedekaan banyak budaya asing yang beredar masuk, katakanlah masyarakat yang banyak meniruh budaya-budaya asing tersebut, namun masih sebagian besar masih bertahankan diri dalam prinsip budayanya sendiri dimana setiap masyarakat timor leste sejak dulu menganut budaya animism dan sampai sekarang masih berkembang ditenggah-tenggah masyarakat, dengan mata pencaharian berladan dan beternak dan mempunyai hukum adat tertentu yang disebut BANDU AI METAN sebagai pegangan seorang pemimpim dalam setiap suku dalam rangka mengarah dan membina penduduk disetiap masing-masing tempat. Budaya asing sebagai suatu fenomena baru didalam masyarakat untuk menjadikan referensi dimana masyarakat meniruh untuk melengkapi perkembangan hidup di era globalisasi sekarang, berprilaku sesuai dengan perkembangan jaman. Namun dalam pembahasan ini yang penulis maksud adalah masyarakat timor leste sesunguhnya sudah terbagi dua yaitu perilaku masyarakat yang mendiami kota berbeda dengan masyarakat pedesaan. Masyarakat sebagian besar yang tinggal dikota karena ditutunt oleh kebutuhan sehari-hari pada umumnya, uang yang mereka perlukan untuk menyekolahkan anak dan biaya-biaya lain yang sangat diperlukan olehsetiap  masyarakat. Karena menurut masyarakat mencari nafkah dikota lebih gampan did banding hidup di desa. Walaupun di desa semuanya serba ada Cuma makanan,tapi sangat cukar mendapatkan uang. Sehingga semua masyarakat menggunsi ke kota untuk berdagang demi kelansungan hidup mereka. Sedangkan perilaku masyarakat pedesaan yang mereka dapatakan dari bercocok tanam dan berternak yaitu memilihara binatan untuk dengan itu mereka bisa menjual hasil panenan dan peliharan mereka utuk keperluan hidup sehari-hari.
Masyarakat yang mengunsi ke kota dengan alasan bahwa mencari nafkah dan sampai tidak pulang ke tempat tinggal mereka, ini semua disebabkan karena pemerintah kurang memperhatikan masyarakat kecil, dimana pemerintah seharusnya memperbaiki jalan supaya arus trnsportasi akan berjalan dengan lancar. Supaya mencegah terjadinya kepatan penduduk di kota .
Bahwa masyarakat yang berdiam diri dipedesaan merupakan masyarakat peladan yang masih menjunjun tinggi kelestarian alam diatas segala-galanya katakanlah mereka mencitai alam, sperti pada hukum adat berbunyi gunung tak boleh dihancur, lembah tak boleh dirusak, gambaran tersebut menampilkan salah satu kekayaan dan kebiasaan leluhur timor leste.
Dengan paper ini penulis menyadari bahwa masih jauh dari yang kesempurnaan, maka penulis menerima usul saran ataupun  kritik dari barbagai pihak untuk memperbaiki kesalahan dalam tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar